Tambang Emas Monterado
Keterdapatan emas aluvial di wilayah Kalimantan Barat
telah diketahui sejak jaman Hindu, sebelum masa penjajahan Belanda.
Ekspedisi yang dilakukan oleh Everwijn pada tahun 1853-1857 di
sepanjang aliran sungai Kapuas, menemukan endapan aluvial mengandung
emas di daerah Tayan dan Sintang serta mencatat adanya penambangan
emas aluvial di daerah Sanggau.
Aktifitas penambangan emas aluvial secara intens
dimulai pada abad ke 18, saat dimana kegiatan penambangan emas
merupakan sumber penghasilan kesultanan Sambas. Pada 1760, Sultan
Umar Akamudin II mendatangkan orang-orang sebagai pekerja tambang di
daerah Sambas, Bengkayang, dan Montrado untuk meningkatkan hasil
pertambangan emas. Kebijakan Sultan Sambas ini, selain berhasil
meningkatkan perolehan emas bagi Kesultanan Sambas, juga menyebabkan
gelombang masuknya ribuan imigran dari Cina ke daerah tersebut. Para
imigran ini mendirikan kongsi-kongsi pekerja tambang, semacam koloni
Cina yang mengatur pemerintahan dan perdagangan. Sejak saat itu,
di,daerah yang meliputi Singkawang, sebagian besar Sambas dan bagian
barat Bengkayang merupakan wilayah tambang emas aluvial Monterado
yang sering juga disebut Distrik Cina (Keyser & Sinay, 1993).
Tambang Emas Mesel
Tambang Emas Mesel berada di daerah Ratatotok, Kabupaten Minahasa
Selatan, Sulawesi Utara..Kegiatan tambang emas di daerah ini telah
dimulai pada tahun 1850-an, tercantum pada peta British daerah
Sulawesi, disebut sebagai tambang emas Gn.Tottik. Pada laporan yang
disusun pada jaman BelandEa oleh Mesdag,1914, tercatat bahwa
penambangan emas telah dilakukan di Hais oleh penduduk yang berasal
dari sekitar Bolaang Mongondow (Garwin, 1994).

Ketika Belanda menemukan daerah tambang tersebut sekitar 1898, telah
didapati lorong bawah tanah yang sempit dan panjang, yang
dikembangkan dengan teknik peledakan. Belanda membangun 20 mesin
penumbuk bijih pada tahun 1900 di dekat pantai, dengan sarana
pengangkutan menggunakan lori. Mesin penumbuk tersebut telah
ditambah menjadi 60 penumbuk bijih pada tahun 1910. Tercatat total
produksi 5.060 kg emas (Van der Ploeg, 1945, dalam Garwin, 1994)
yang ditambang di antara tahun 1900 dan 1921 dari sebagian besar
endapan eluvial.
Tambang Emas Cikotok
Cikotok telah ditemukan sejak tahun 1839 yang kemudian dieksploitasi
mulai tahun 1936 oleh perusahaan Belanda N.V. Mijnbauw Maatschapij
Zuid Bantam (MMZB). Pada 1939 hingga tahun 1942 terpaksa terhenti
akibat terjadinya Perang Dunia II. Selama pendudukan Jepang 1942 –
1945, kegiatan tambang dikerjakan oleh perusahaan Jepang Mitsui
Kosha Kabushiki Kaisha tetapi tidak menambang emas melainkan timah
hitam timbal (Pb) di Cirotan untuk keperluan produksi amunisi.

Pada masa pemerintahan Sukarno tahun 1958, tambang emas Cikotok
diresmikan dan dikerjakan oleh NV Tambang Emas Tjikotok (TMT) yang
berada di bawah manajemen NV Perusahaan Pembangunan Pertambangan
(P3). Setelah beberapa kali berganti induk perusahaan, pada tanggal
5 Juli 1968 tambang emas Cikotok dikelola oleh PN Aneka Tambang
(BUMN) yang lalu berubah menjadi PT Aneka Tambang sejak 1974 dan
sekarang kemudian dikenal sebagai PT Antam.

Dasar perkembangan usaha pertambangan saat ini
merupakan kelanjutan hasil kegiatan pada masa pendudukan Belanda
yang melakukan eksplorasi dan pengembangannya antara tahun 1840an
dan 1930an. Selama periode tersebut Indonesia menjadi produsen timah
putih kedua terbesar dunia dan pengekspor emas, perak, nikel,
bauksit dan batubara. Namun pada masa perang dunia kedua dan masa
perjuangan kemerdekaan terjadi penurunan dan pengakhiran beberapa
kegiatan pertambangan. Nasionalisasi perusahaan pertambangan antara
tahun 1957 dan 1960 menyebabkan menurunnya produksi tambang pada
tahun 1966 di bawah hasil produksi sebelum masa perang.
ARIE FREDERIK LASUT, Pahlawan Tambang Indonesia

Sejarah perjuangan bangsa Indonesia untuk merebut kemerdekaan
tidak hanya semata-mata ditujukan mengembalikan martabat bangsa Indonesia
saja, tetapi juga untuk merebut kembali kekayaan sumber daya alam Idonesia
dari cengkeraman bangsa asing. Sejarah mencatat perebutan kembali kekayaan
sumber daya nasional seperti pusat-pusat pertambangan timah, emas dan perak
dari kekuasaan penjajah Belanda tidak lepas dari perjuangan putra-putri
terbaik Indonesia.
Salah satu putra terbaik yang berhasil nmenggagalkan upaya
penguasaan kembali pertambangan oleh penjajah Belanda adalah Arie Frederik
Lasut. Sosok ilmuwan di bidang pertambangan dan geologi ini lahir pada
tanggal 16 Juli 1918 di desa Kapataran, Minahasa, Sulut, menjadi salah satu
tokoh yang diincar penjajah Belanda karena ilmu pertambangan dan geologi
yang dikuasinya. Arie F. Lasut belajar pertambangan dan geologi sejak jaman
pemerintahan kolonial Belanda. Karena kepandaiannya Arie F. Lasut pernah
mendapat bea siswa untuk belajar di perusahaan pertambangan Mijnbouw, bahkan
bersama rekannya R. Sunut Sumosusastro sempat ditunjuk sebagai asisten
sejumlah geolog Eropa, pengalaman tersebut selain membuat kemampuan mereka
di bidang pertambangan semakin berkembang juga semakin memahami data
kekayaan geologi di wilayah negri ini.
Setelah Indonesia merdeka, Ketka Belanda datang lagi ke
Indonesia dengan agresi militernya yang hendak menguasai kembali
pertambangan Indonesia, dengan bujukan dan tekanan pasukan Belanda meminta
Ari lasut agar menyerahkan dokumen tentang kekayaan Indonesia. Kondisi ini
membuat Arie F. Lasut dan koleganya terpaksa mengungsi dari Bandung ke
berbagai tempat seperti ke Tasikmalaya lSolo, Magelang hingga Jogjakarta.
Dalam pengungsian ke beberapa daerah tersebut, Arie Lasut dan R. Sunut
Sumosusastro sempat membuka Sekolah Pertambangan dan Geologi Tinggi di
Magelang dan Sekolah Mantri Geologi di Jogjakarta pada tahun 1946 dengan
tujuan mendidik pribumi agar menjadi ahli-ahli geologi dan pertambangan.
Karena kepandaiannya dan dianggap banyak mengetahui dokumen rahasia
pertambangan Indonesia, Arie F. Lasut yang pada saat itu menjabat sebagai
Ketua Kantor Jawatan Tambang menjadi incaran bagi Belanda. Berbagai cara dan
penawaran dilakukan Belanda agar Arie F. Lasut mau menyerahkan dokumen data
kekayaan Indonesia. Namun jiwa nasionalisme dan kesetian Arie F. Lasut pada
Republik ini tak tergoyahkan, sehingga segala tawaran Belanda ditolaknya.
Karena selalu gagal membujuk, Tepat pada penandatanganan perjanjian
Room-Royen, Belanda menculik dan memaksa Arie F. Lasut dengan berbagai
siksaan agar menyerahkan berbagai dukumen tambang dan geologi yang
diketahuinya. Namun sikapnya yang tetap teguh tidak mau menyerahkan dukumen
tersebut membuat Belanda benar-benar kesal yang akhirnya menembak mati
patriot tambang ini di daerah Pakem di Jogyakarta pada tanggal 7 Mei 1947
Sepeninggal Arie F. Lasut, ketua Jawatan Tambang dan
Geologi selanjutnya dipegang R. Sunu Sumosusastro. Atas
jasa-jasanya, Arie F. Lasut dianugerahi gelar Pahlawan Kemerdekaan
Nasional pada tanggal 20 Mei 1969.
Sebelumnya /
Hal 02