SEJARAH TAMBANG EMAS
Di INDONESIA
Tak dapat dipungkiri bahwa bangsa penjajah menguasai
sebuah negara karena kekayaan alamnya. Sebagaimana bangsa-bangsa
Eropa lainya seperti Portugis, Spanyol, dan Inggris, bangsa Belanda
datang di Nusantara pada awalnya karena tertarik akan rempah-rempah
khas seperti lada, kayu manis, cengkeh, dan pala yang melimpah di
negri ini..Tetapi pada akhirnya justru sektor-sektor pertambangan
sumber daya alam yang berupa mineral tambang yang menjadi alasan
utama Belanda mempertahankan kekuasaanya di negri ini. Hal ini
terbukti pada saat Belanda mulai mengakui kemerdekaan bangsa
Indonesia, Belanda masih tidak mau melepaskan Papua Barat yang nota
bene tidak memiliki rempah-rempah tetapi justru menyimpan kekayaan
alam yang sangat luar biasa yaitu berupa sumber daya alam mineral
yang melimpah seperti emas, perak, dan tembaga! Bahkan kini kekayaan
sumber daya alam berupa mineral merupaha penyumbang devisa terbesar
bagi penerimaan negara. Jadi sangatlah logis bila suatu penjajah
sudah menguasai tambang suatu negara tentu akan berusaha keras untuk
mempertahankan negara jajahannya dengan segala kekuatannya.
Ketika persaingan dagang antar bangsa Eropa, seperti
Portugis, Spanyol, Belanda, dan Inggris, di wilayah Nusantara
semakin tajam. Situasi demikian mendorong Pemerintah Belanda
mengerahkan segala kemampuannya untuk memenangkan persaingan itu.
Berkaitan dengan hal ini, maka Pemerintah Belanda menugasi
Vereenigde Oost-Indische Compagnie (VOC, Serikat Dagang Hindia
Timur) yang didirikan pada tahun 1602, untuk mengambil langkah yang
diperlukan, dan sekaligus untuk mencari mineral berharga. Untuk itu
pada tahun 1619, VOC mendirikan tiga pangkalan di kota Batavia
(Jakarta), Amboina (sekarang Ambon), dan di Banda. Melalui VOC
inilah Pemerintah Belanda mengetahui potensi geologi dan sumber daya
mineral di Nusantara, termasuk diantaranya adalah mineral emas.
Jejak kegiatan penambangan yang dilakukan Belanda selama berkuasa di
Indonesia masih dapat dijumpai mulai dari Sumatera, Jawa,
Kalimantan, Sulawesi, bahkan Papua.
Namun jauh sebelum Belanda datang, Nusantara sudah
terkenal akan kekayaan emasnya. Emas sebagai salah satu komoditas
tambang sudah dikenal dan diusahakan di Nusantara tercatat pada
manuskrip Cina berumur lebih dari seribu tahun yang lalu (Van
Leeuwen, 1994). Imigran dari Cina telah menambang cebakan emas
aluvial di Kalimantan pada abad keempat. Kegiatan tambang dalam dan
tambang aluvial marak dilakukan oleh imigran Hindu dan masyarakat
setempat di Sumatera dan Sulawesi Utara. Selain situs tambang,
banyak artefak yang ditemukan para arkeolog yang terbuat dari emas,
baik berupa mahkota, perlengkapan peribadatan, perhiasan, hingga
peralatan sehari-hari. Artefak terbuat dari emas tersebut banyak
dijumpai pada sejumlah situs arkeologi, terutama di Jawa Barat dan
Bali. Sedangkan tempat lain emas dikenal lebih belakangan, yakni
pada akhir masa perundagian atau pada masa logam akhir sekitar tahun
500 SM.
Kemegahan candi Borobudur dan Prambanan yang hingga
kini masih dapat kita lihat, pengerjaan pembangunan pada masanya
tentu merupakan mega proyek yang membutuhkan kekuatan pendanaan yang
sangat besar, Demikian juga pada masa kerajaan Sriwijaya dan
Majapahit, kejayaan kerajaan-kerajaan tersebut terwujud tentulah
karena ditopang kemampuan finansial yang memadai. Pada era itu,
tentu emas sudah menjadi barang yang berharga dan memiliki nilai
tukar yang dapat diterima oleh bangsa-bangsa lain, jadi sangatlah
mungkin kegiatan penambangan emas merupakan sumber pendanaan
potensial pada masa itu.
Selain itu, mitos atau legenda dengan emas menjadi
bagian dari kisahnya, masih dituturkan hingga kini. Secara empiris
hal tersebut membuktikan bahwa sejak dahulu, beberapa daerah di
negri ini pernah menjadi pusat penambangan emas, pengrajin
emas, hingga
perdagangan emas. Jadi tidaklah berlebihan bila disimpulkan
bahwa sesungguhnya jati diri bangsa ini bukan hanya Bangsa Pelaut
(Maritim) dan Bangsa Agraris tetapi juga Bangsa Penambang..!
Tambang Emas Salido
Pusat
tambang emas tertua Nusantara diantaranya berada di Sumatera.
Menurut M.J. Crow dan T.M. van Leeuwen, jalur emas Sumatra
berhimpitan dengan garis patahan karena adanya peristiwa geologi.
Proses mineralisasi emas ini terjadi berbarengan dengan munculnya
basur magma sepanjang Bukit Barisan. Interaksi magma dengan batuan
dasar pada tekanan tertentu sehingga membentuk zona ubahan pada
batuan induk lava dan tufa yang kemudian berperan sebagai batuan
induk kaya mineral ( host rock ), termasuk emas. Logam mulia
tersebut banyak ditemukan disekitar kawasan Bukit Barisan seperti
Martabe, Rawas, Bangko, Lebong, dan Mandailing. Hal ini menjadikan
pulau Sumatra dalam bahasa Sanskerta terkenal dengan sebutan
SWARNADWIPA .yang berarti "Pulau Emas" seperti yang
tertera pada prasasti Nalanda, tahun 860 Masehi atau
SWARNABHUMI yang berarti "Tanah Emas". Nama-nama tersebut
sudah dipakai dalam naskah-naskah India sebelum Masehi. Sumatera
juga dikenal sebagai pulau Andalas.
Perdagangan emas di pulau Sumatera telah berlangsung
lama. Berita mengenai Pulau Emas sudah sampai ke Eropa melalui
cerita-cerita para pelaut Arab, sehingga para pedagang Portugis
berusaha mencari emas di pulau ini. Penyair Portugis yang terkenal,
Luiz de Camoens (1524-1580), menulis sebuah puisi epik "Os Lusiadas"
(1572), tentang Gunung Ophir di Pasaman yang kaya emas, yang
diperdagangkan oleh penduduk lokal dengan orang asing.
Gambaran lainnya melalui catatan Tome Pirse, seorang petualang asal
Portugis, di awal abad 16 telah diketahui bahwa emas telah
diperdagangkan di seluruh kota pelabuhan di Sumatera terutama Barus.
Dalam catatan tersebut, ditambahkan pula bahwa pulau Sumatera sangat
kaya akan emas sehingga orang China menjulukinya Kintcheou ( Pulau
Emas ). Bahkan jauh sebelum itu, melalui tulisan Ptolomeus dalam
Geographia pada awal abad ke-2, disebutkan bahwa pelabuhan tua di
pantai barat Sumatra Utara tersebut, emas telah menjadi salah satu
komoditas utama yang diperdagangkan selain kapur barus. Emas yang
diperdagangkan tersebut diperkirakan berasal dari sungai-sungai yang
berhulu di sekitar Bukit Barisan.
Sebuah batu bertuliskan huruf Hindi yang berasal dari
peradaban Hindu-Budha dari kerajaan Sriwijaya dan Melayu
menceritakan bahwa “Sultan Sungai Emas” mengekspor emasnya kehilir
melalui sungai Indragiri dan Siak yang mengalir dari tanah tinggi
Sumatera Barat ke pantai barat Sumatera. Disebut pula bahwa orang
Minang yang pertama kali menempati jantung kerajaan Sriwijaya di
sekitar Palembang. Kerajaan Minangkabau yang kaya dengan emas
merupakan pendukung dari Kerajaan Sriwijaya abad ke 7 pada masa
kejayaan agama Budha.
Hingga awal abad ke-17 tambang-tambang di daerah
Minangkabau merupakan daerah yang paling kaya akan emas di seluruh
kawasan itu. Emas ditambang dari sungai-sungai di sebelah timur dan
ditambang-tambang bukit Minangkabau. Emas-emas yang dihasilkan
kemudian diekspor melalui sejumlah pelabuhan, seperti Kampar,
Indragiri, Pariaman, Tikus, Barus, dan Pedir. .
Melalui perjanjian Painan, pada tahun 1662 VOC
mendapat konsesi untuk berdagang di pantai barat Sumatra. VOC mulai
mengeksploitasi kandungan emas Salido pada tahun 1669 semasa jabatan
commandeur VOC ketiga untuk pos Padang; Jacob Joriszoon Pit (1667-23
Mei 1678). Dua ahli tambang pertama yang didatangkan ke Salido
bernama Nicolaas Frederich Fisher dan Johan de Graf yang berasal
dari Hongaria. Tambang emas pada masa pemerintahan Kolonial Belanda
dikerjakan pertama kalinya oleh VOC antara tahun 1735 - 1869,
kemudian ditambang lagi oleh Kinandam Sumatera Mijnbouw. Co (1913
-1928) yang menghasilkan 3.004 kg emas dan 97.953 kg perak; untuk
timah hitam tidak didapat data yang jelas. Belanda menutup tambang
ini karena cadangan emas dan peraknya dianggap telah habis.
Dikabarkan bahwa pernah terdapat 1.200 tambang emas di sana (Marsden
1783: 168; cf. Eredia 1600: 238-239)
Tambang Emas Lebong
Berdasarkan laporan hasil penelitian pertambangan di daerah Lebong.
oleh P. Hovig, de Goudertsen van de Lebong streek, 1913 dan O.G.
Heldring, Eindverslag Over het Geologischmijnbouwkundig onderzoek in
de Residentie Benkoelen, 1915, kisah tentang penambangan emas di
daerah Lebong diawali dengan pencarian tambang emas baru oleh Sultan
Daulat Mahkota Alamsyah dari Kerajaan Pagaruyung sekitar abad ke 13.
yang memerintahkan Tuanku Imbang Jaya untuk mencari daerah baru yang
mengandung emas. Ekspedisi yang dipimpin Tuanku Imbang Jaya tersebut
menemukan daerah penambangan baru di dusun Hiang di perbukitan
Gunung Urai (Kerinci). Selanjutnya di Jambi menemukan perbukitan dan
sungai-sungai yang mengandung emas seperti Sungai Limun dan Batang
Asai. Perjalanan dilanjutkan ke arah Barat melintasi perbukitan
Barisan, di kaki bukit Bubung melakukan pencarian emas di
aliran-aliran sungai Aer Batu Apar, Aer Putih, Aer Bandung, dan
Kelumbuk. Daerah penambangan baru ini dinamakan Tambang Sawa
(Lebong) dan Datuk Bergombak Panjang ditetapkan sebagai kepala
tambang. Rombongan dari kerajaan Pagaruyung juga menemukan daerah
penambangan baru di daerah perbukitan Lebong Tinggi, gunung Siman,
gunung Tandai, dan gunung Sam (Bukit Resam). Selain rombongan dari
Kerajaan Pagaruyung, pencarian emas juga dilakukan oleh rombongan
dari Indrapura, Banten, dan Majapahit. Rombongan Indrapura menemukan
daerah penambangan emas di perbukitan Sulit, rombongan dari Banten
yang dipimpin Cindai Wayang menemukan daerah penambangan emas di
perbukitan Karang Suluh (Lebong), sedang rombongan dari Majapahit
yang dipimpin Serapu Kembang menemukan daerah penambangan baru di
perbukitan Lebong Simpang.
Perusahaan tambang Belanda, baik milik pemerintah
maupun swasta baru mulai melakukan kegiatan penambangan di Bengkulu
setelah ditemukannya formasi Lebong pada tahun 1890. Penambangan
emas yang tertua diantaranya dilakukan oleh perusahaan Mijnbouw
Maatschappij Redjang Lebong dan Mijnbouw Maatschappij Simau berada
di Lebong, Bengkulu. Kedua perusahaan itu merupakan penyumbang
terbesar ekspor emas perak Hindia Belanda. Misalnya, pada tahun 1919
perusahaan Mijnbouw Maatschappij Redjang Lebong menghasilkan 659
kg/emas dan 3.859 kg/perak, dan perusahaan Mijnbouw Maatschappij
Simau menghasilkan 1.111 kg/emas dan 8.836 kg/perak. Setidaknya dua
perusahaan ini berhasil meraup 130 ton emas selama berproduksi
kurang dari setengah abad (1896-1941)

Jejak-jejak sisa penambangan yang dilakukan Belanda
di Bengkulu masih dapat ditemui di Ulu Ketenong, Tambang Sawah,
Lebong Donok, Lebong Simpang, Lebong Tandai.

Wilayah lain di Sumatera, selain tambang Salido dan
Lebong, Belanda juga menambang cebakan emas di daerah Meulaboh, NAD,
dan Logas, Riau (Van Leeuwen, 1994). Selain menambang bijih emas
primer pada Tambang Manggani, Sumatera Barat awal 1939, Marsman's
Algemeen Exploratie Maatschappij atau lebih dikenal MAEM juga
mengusahakan emas aluvial di Meulaboh, Aceh yang dibuka pada tahun
1941 dan berlangsung hingga pecahnya Perang Dunia II. Tarnbang emas
aluvial terdapat juga di Logas, Riau diusahakan oleh perusahaan
Bengkalis (Wahyudi dan Yusuf, 2004). Tempat-tempat lain pada masa
pendudukan Belanda yang berkaitan erat dengan tambang emas di
antaranya di Kotacina di Sumatera Utara, dan Buo, Batangasai di
Sumatera Barat. Kotacina, pada abad 11 – 13 merupakan pelabuhan
dagang yang ramai, walaupun tidak ada catatan sejarah tentang
penambangan di Kota ini, tetapi penggalian Arkeologis menemukan
berbagai perhiasan emas kuno. Tambang lain yang dibuka sesudah tahun
1930an adalah Belimbing (Gunungarum) pada tahun 1935 dikelola oleh
perusahaan Barisan, Bulangsi (Sumatra Goudmijn Ltd.) dan
Muarasipongi pada tahun 1936.
Hal
01 /
Berikutnya